RIP: USKUP ISAK DOERA,PR “KESEMBUHAN ABADI” SANG PENCINTA MARIA

Perjalanan imamat saya merasakan sekali penyertaan Maria dalam seluruh perjalanan hidup saya maka motto yang saya pakai adalah ‘Cum Maria ad Jesum’ Bersama Maria Menuju Yesus (kutipan pesta emas tahbisan imamat Mgr. Isak Doera)

Tangis Marta tak terbendung. Adik kandung mantan Uskup Sintang, Kalimantan Barat itu tak menyangka hari ini akan menjadi hari terakhir bersama sang kakak. Mgr. Isak Doera meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Carrolus, Jakarta, Sabtu (19/5 /2012) pukul 10.10. “Hari ini pesta ke-35 tahun pesta tahbisan uskupnya dan juga tanggal ayah kami meninggal,” ujarnya kepada wartawan BM St. Antoro.
Ditambahkan Mgr. Agustinus Agus, sebelumnya mantan Uskup Sintang ini sudah beberapa kali masuk RS yang sama dengan perawatan intensif. Dijelaskan pula, Mgr. Isak Doera pada hari Minggu (06/05/2012) kondisinya sudah lemah dan sulit untuk diajak bicara.
“Beliau begitu lemah karena tidak bisa makan lagi bahkan sulit diajak untuk berkomunikasi lagi. Harapan kita Beliau dapat sembuh, tapi Tuhan berkehendak lain untuknya,” kata Agustinus Agus yang mengaku terus memantau perkembangan Isak Doera melalui petugas RS via seluler.
Misa requiem untuk almarhum Mgr. Isak Doera Prakan berlangsung di Rumah Duka RS. Sint. Carolus, hari Minggu (20/5) pukul 19.00 WIB. Jenasah diberangkatkan menuju Gereja Katedral Jakarta. Disana jenasah disambut Pastor paroki dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo menunjukkan belasungkawa dengan menyalami keluarga dan kerabat almarhum. Sorenya dilaksanakan Misa Requiem yang dipimpin para uskup.
Misa Requiem untuk Uskup Emeritus Keuskupan Sintang, Mgr. Isak Doera juga dilangsungkan di Gereja Katedral Sintang dimulai pada pk. 18.00 WIB. Misa diawali dengan pembacaan Curiculum Vitae Mgr. Isak Doera oleh Bpk. Cosmas Syukur.
Misa Requiem ini di-pimpin oleh Rm. Leonardus Miau, Pr (Vikjen) didam-pingi oleh Rm. JB. Nan Kabelen,Pr, Rm. Salesius Jeratu, Pr, dan Rm. Hiasintus, Pr, serta disemarakkan dengan koor seminaris Seminari Menengah Yohanes Maria Vianney Sintang.
Para biarawan-biarawati, umat Paroki Kristus Raja Katedral Sintang dan Paroki Maria Ratu Semesta Alam Sei Durian turut hadir untuk memanjatkan doa bagi keselamatan jiwa Mgr. Isak Doera.
Jenazah Mgr. Isak Doera tiba di Maumere dan diterima Bupati Mitang didampingi Uskup Agung Ende,  Mgr Vincentius Sensi Potokota, Pr, ratusan imam, biarawan dan biarawati. Jenasah langsung dibawa ke Seminari Tinggi Ritapiret, Desa Nita Kecamatan Nita, untuk disemayamkan di Kapela Agung, Santo Petrus Ritapiret, Selasa (22/5).
Uskup yang pernah memimpin Keuskupan Sintang selama 19 tahun (1977-1996) itu dinilai telah banyak memajukan masyarakat Dayak di wilayah tersebut. “Saya kenal baik Monsinyur Isak. Beliau kokoh pendiriannya bagai tunggul tebelian, kata orang Dayak. Ia memajukan orang Dayak di Sintang,” kata Masri Sareb Putra, putra Dayak yang kini staf pengajar Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta.
Sebagai pastor tentara pada tahun 1967 di Kalbar, Isak Doera menjembatani tentara-rakyat agar pasca kerusuhan etnis China-Dayak tidak terjadi chaos. Di Sintang, menurut Masri, Isak Doera juga memajukan perekonomian masyarakat Dayak dengan mengembangkan Komisi Sosial Ekonomi, mendatangkan para mantri tani dan petani dari Jawa untuk menularkan cara bersawah.
Selain itu, Isak Doera mengirimkan para seminaris ke Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, untuk menimba ilmu. “Meski tidak semuanya menjadi pastor, mereka itu kini menjadi tokoh masyarakat Dayak,” jelas Masri.
Selama bertugas di Sintang, Isak Doera juga aktif melakukan kunjungan ke semua wilayah keuskupan untuk menemui masyarakat dan kaum Dayak. Dia memberi motivasi untuk terus maju. “Jasa besar Monsinyur Isak sulit terlupakan orang Dayak,” tegas Masri.
Suasana duka menyelimuti Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Para Uskup, imam dan biarawan-biarawati serta keluarga besar Mgr. Isak Doera dari Jopu, tak mampu menahan duka yang mendalam. Isak tangis pun pecah ketika jenasah diturunkan dari mobil ambulan.
Jenasah diantar Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus, Pr, Wakil Bupati Sintang, Ignasius Yuan, beserta rombongan dari Sintang dan Jakarta. Bupati Sikka mengatakan, Mgr. Isak Doera adalah sosok yang patut diteladani. Sejak awal tugas kegembalaannya di Maumere sampai ke Sintang, Kalimantan Barat, sampai pada saat ajal menjemput, almarhum selalu tulus dalam kesederhanaannya melayani umat.

Alumnus Pertama

Mgr. Isak Doera, Pr, adalah alumnus pertama Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ritapiret yang menjadi uskup. Mgr. Isak Doera lahir di Jopu, Nusa Tenggara Timur pada 26 September 1931. Pada 18 Januari 1959, Ia ditahbiskan menjadi imam dan pada 9 Desember 1976 diangkat menjadi Uskup Sintang oleh Paus Paulus VI. Enam bulan kemudian tepatnya pada 19 Mei 1977, Ia ditahbiskan Uskup oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono. Pada 1 Januari 1996, Beliau mengundurkan diri dan digantikan oleh Mgr. Agustinus Agus. Tepat pada 29 Oktober 1999, Vatikan resmi memilih Mgr. Agustinus Agus sebagai Uskup Sintang untuk menggantikannya.
Isak Doera dilahirkan di Jopu, 26 September 1931 dari pasangan Mikhael Bhoka dan Clara Maru. Pendidikan imamnya dimulai pada seminari menengah St. Yohanes Bergmans di Mataloko NTT yang diselesaikan tahun  1952. Dirinya kemudian melanjutkan ke Seminari Tinggi di Ritapiret Maumere yakni di St.Petrus dan tamat tahun 1958. Pada 18 Januari 1959, dirinya ditahbiskan sebagai Imam di Gereja Kathedral Ende oleh Mgr.Antonius Theyssen.
Pada tanggal 9 Januari 1976, ditunjuk sebagai Uskup oleh Paus Paulus VI yang kemudian ditahbiskan oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono tanggal 19 Mei 1977. Dengan berbekal motto pelayanan yang diambil dari 1 Yoh.4:16 yakni “Allah adalah Kasih”, dirinya selama 20 tahun berkarya di keuskupan Sintang.

Uskup Isak Doera selama berkarya pernah diangkat sebagai Kepala Yayaysan Vedapura (Bajawa) dan penilik sekolah Katolik serta menjadi anggota DPRD Tingkat II Ngada sebagai wakil Golongan Karya alim ulama Katolik. Selama kurang lebih 5 tahun (1961-1966),  ia menjadi penasehat rohani Partai Katolik Daerah Tingkat II Ngada dan moderator Pemuda Katolik Bajawa.
Dirinya juga pernah menjabat sebagai penasehat Susila Ikatan Petani Pancasila. Menjadi Pastor ABRI di Jakarta dengan pangkat Mayor tituler dan bertugas di Pusrohkat AD. Juni 1967, dirinya diangkat sebagai Kepala Rohkatdam XII/Tanjungpura, juga menjabat Ketua Komisi PSE KWI serta Komsos KWI.
Kilas balik tahun 1976, sebagai seorang Administrator Apostolik, tugas Mgr. Van den Boorn ialah menyerahkan terna, yaitu nama tiga orang sacerdos, kepada Takhta Apostolik untuk suatu saat dapat diangkat menjadi Us-kup Sintang. Mgr. Van den Boorn mengusulkan nama Romo Isak Doera dan Aloysius Ding, SMM dan bingung memasukan nama ketiga. Tetapi atas saran orang-orang yang dimintai pendapat, akhirnya terna terdiri dari Romo Isak Doera, Pr., Mgr. L. van den Boorn SMM sendiri, yang awalnya tidak mau dimasukkan, dan Pastor Piet Derckx, SMM.
Romo Isak Doera, yang baru pindah dari Pontianak pada tanggal 2 Mei 1975 dan bertugas sebagai Pastor paroki Katedral Sintang, ditetapkan oleh Paus Paulus VI sebagai Uskup Sintang pada tanggal 9 Desember 1976, yang baru diumumkan pada tanggal 2 Februari 1977.
Ia ditahbiskan oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono, serta co-konsekratornya ialah Mgr. Hie-ronimus Bumbun, OFM Cap dan Mgr. Vitalis Djebarus, SVD, di Ka-tedral Sintang, pada 19 Mei 1977. Tanggal ini dipilih karena tanggal pengangkatannya bersamaan dengan tanggal sang Ibunda kena stroke, anehnya tanggal tahbisan dipilih tanggal sang Ayahanda meningal dunia, enam tahun yang silam. Ia memilih motto episkopal “Allah Adalah Kasih (1 Yoh 4:16).Setelah mengabdi selama delapan belas tahun sebagai Uskup Sintang, Ia mengundurkan diri pada tanggal 19 Januari 1996. Sebagai Uskup emeritus, dimasa tuanya, ia beristirahat di Jakarta sambil melayani umat Allah dan kelompok yang membutuhkan pelayanannya.
Mgr. Isak, yang bernama lengkap Wilhelmus Isak Doera ini, dilahirkan di Jopu, Ende, Flores pada tangal 26 September 1931 dari orangtua Ibu Clara Maru dan Bapak Mikhael Bhoka, seorang katekis. Menempuh dan menyelesaikan pendidikan di Seminari Menengah Mataloko dan Seminari Tinggi Ritapiret, ia ditahbiskan sebagai imam diosesan di Ende melalui penumpangan tangan Mgr. Antonius Theyssen SVD, Uskup Agung Ende.
Setelah ditugaskan di berbagai karya pastoral, seperti pastor Paroki, penilik sekolah, anggota DPR, ia juga ditugaskan sebagai Pastor Militer yang akhirnya membawanya  berkarya di Keus-kupan Agung Pontianak. Setelah berkonsultasi dengan Mgr. Herkulanus OFM Cap, karena namanya masuk terna, akhirnya Romo Isak Doera dipindahkan dari keuskupan Pontianak ke keuskupan Sintang pada 5 Mei 1975 dan diangkat menjadi Pastor Paroki Katedral Sintang.

Kurangnya Tenaga

Melihat betapa Keuskupan Sintang sangat kekurangan tena-ga, baik tenaga klerikal, suster maupun katekis dan tenaga awam lainnya untuk karya pastoral, maka berbagai usaha ia lakukan untuk mengatasinya. Uskup Isak menghubungi Gubernur Kaliman-tan Barat, Bapak Kadarusno, seorang teman lama di Kodam XII Tanjung Pura, dalam usaha untuk mendatangkan sekitar seribu orang guru SD dari NTT pada tahun 1977.
Usaha ini menjadi usaha antara pemerintah Kalbar deng-an pemerintah NTT. Mendatangkan guru agama berarti seluruh beban finansial ditanggung keuskupan, tetapi mendatangkan guru biasa untuk Sekolah Dasar yang berstatus pegawai negeri tidak akan membebani keuskupan. Dari sekitar 2.000 orang guru, 1.560 orang beragama Katolik. Di kampung-kampung di pedalaman Kalimantan Barat, di tempat penempatan masing – masing, mereka menjadi tenaga andal Gereja, membantu Pastor dalam membina umat, mengurus liturgi, memimpin ibadat hari Mi-nggu dan ibadat lainnya.
Jasa mereka perlu dicatat dan terima kasih perlu dipersembahkan, karena mereka bekerja     seperti seorang katekis walau mereka bukan pegawai atau katekis keuskupan atau paroki. Kehadiran para guru Katolik ini semakin terasa manfaatnya kare-na pada saat bersamaan datang pula gelombang demi gelombang para transmigran dari Jawa yang hampir semuanya beragama Islam.
Mengingat tenaga imam yang sangat kurang, sejak masa awal menjadi Uskup, Mgr. Isak mendekati provinsial SVD untuk mau bekerja di Keuskupan Sintang. Permintaan ini disanggupi dengan mengirimkan beberapa imam mereka ke Sintang. Tahun 1978, datanglah beberapa imam Soverdi, Pastor Hendrik Rehi Manuk, Pastor Benediktus Raga dan pastor Stefanus Mite. Mereka bekerja dan melayani umat Allah di Merakai dan Senaning.
Sayangnya, sejak tahun 1996, tidak ada lagi penambahan tenaga, bahkan pada tahun 2001, hanya tersisa satu orang imam SVD yang berkarya di Sintang. Sejak tahun 2009, SVD meninggalkan keuskupan Sintang, walau secara legal, kontrak antara tarekat dan keuskupan belum diputuskan.
Sampai dengan tahun 1979, hanya ada satu tarekat suster yang bekerja di keuskupan Sintang, yaitu SMFA. Mengingat kebutuhan umat yang sangat besar, teristimewa umat yang di kampung-kampung, dan pentingnya kehadiran dan pelayanan para suster, maka Mgr. Isak meminta bantuan para imam Oblat Maria untuk membantunya mencarikan tarekat suster dan Beliau sendiri mendekati pimpinan tarekat Ursulin agar mau bekerja di keuskupan Sintang.
Maka pada 4 Januari 1980, datanglah lima orang suster Kongregasi Soeurs de la Charite de Sainte Jeanne Antide Thouret (SdC) ke Indonesia. Setelah menyelesaikan kursus bahasa Indonesia di Bandung selama enam bulan, mereka pun tiba di Sintang pada tanggal 10 Mei 1980. Para suster SdC bertugas di Temanang dan Lengkenat, paroki Sepauk, dan di kemudian hari juga di Sintang dan tempat lainnya.
Tepatnya, 23 Desember 1980, datanglah para suster Ursulin (OSU), yang memilih paroki Nobal sebagai tempat mereka berkarya. Dipelopori oleh Sr. Sri Sunarti, mereka melayani di bidang pastoral dan pembinaan umat. Tahun 1994, suster Ursulin meninggalkan Nobal dan pindah ke Nanga Pinoh.
Di samping menggerakkan umat di bidang pastoral, sosial, politik, dan ekonomi, Uskup Isak juga melihat jauh ke depan dengan mengundang beberapa tarekat klerikal maupun laikal (suster dan bruder) untuk berkarya di Keuskupan Sintang. Ia juga memikirkan tersedianya tenaga-tenaga imam lokal, yaitu imam-imam diosesan. Kebutuhan akan tenaga imam sangat mendesak dan sayangnya tidak selalu mudah mendapatkan tenaga imam dari tarekat. Karena itu, melalui persetujuan Dewan Imam Keuskupan Sintang pada tahun 1983, maka didirikanlah Seminari Tinggi Betang Batara di Bandung, tempat pendidikan dan pembinaan bagi para frater calon imam dioses Sintang.

St. Antoro, Frans Erbe, Christian AW

Iklan
By esteantoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s