TUHAN LEBIH BESAR DARI ELVIS PRESLEY!

DJulian dan Adrian Riester

sr dolores

sr forcades

sr Olalla Oliveros2

sr teresita

sr_laura-adshead

Sr_sang_juara_(412x337)itengah keprihatinan minimnya jawaban orang muda Katolik atas panggilan menjadi imam, bruder dan suster, kita seperti disodorkan pertanyaan,”Masihkah rahmat panggilan khusus itu terus mengalir? Jawabannya, masih! Dari logika manusia, mungkin sulit mencerna, tapi membaca dan menyimak jalan hidup orang-orang terpanggil dibawah ini, kita akan mendapat jawaban. Tuhan memanggil orang-orang pilihan dengan cara-Nya, bukan dengan cara manusia.

Kita bisa berkaca dari kesaksian hidup seorang Olalla Oliveros (36). Perubahan drastis terjadi ketika ia, yang seorang model cantik dari Spanyol, kini menjadi seorang biarawati. Model dan biarawati. Benar-benar dua profesi yang sangat bertolakbelakang, bukan? Sebagai model dan aktris, Olalla terbiasa dengan gaya hidup glamor dan tidak segan tampil buka-bukaan di depan kamera. Namun saat mengunjungi sebuah kuil di Portugal, Olalla mengaku seperti mendapat `gempa bumi` di dalam dirinya. “Tuhan tidak pernah salah. Jika Dia meminta saya untuk mendedikasikan diri, saya siap untuk melakukannya,” ujar Olalla.

Kembali dari Portugal, Olalla langsung bergabung dengan Ordo Santo Mikael dan resmi menjadi seorang biarawati. Keputusan Olalla menjadi perbincangan hangat di Spanyol bulan ini. Menurut agensi Olalla, keputusannya untuk merubah gaya hidup sebenarnya sudah berlangsung sejak empat tahun yang lalu. Namun baru saat ini gaya hidup baru Olalla tersebar luas ke media di Spanyol. Biasa berpakaian serba modis berkat profesinya sebagai artis, Olalla mengaku sempat merasa aneh ketika harus mengenakan jubah biarawati.

Bergabungnya Olalla ke Ordo Santo Mikael juga sukses membuat biarawati di sana secara tidak langsung ikut populer. Olalla tidak segan beberapa kali berpose untuk media bersama teman-teman biarawati nya. Kini Olalla menyandang nama Suster Olalla del Si de Maria.

Kisah sosialitas lainnya bisa ditemui pada diri Laura Adshead. Masih ingatkah, ketika Perdana Menteri Inggris, David Cameron dulu memiliki kekasih yang juga sosialita di Inggris. Dialah Laura Adshead nama si wanita tersebut yang kini berganti Joan Marry, dan menjadi seorang biarawati “The Abbey of Regina Laudis” di Connecticut, Amerika Serikat.
Laura sebelum menjadi biarawati sebenarnya memiliki jejak prestasi lumayan. Ia lulusan Universitas Oxford, pernah bekerja di Kantor Partai Konservatif Inggris dan menjadi Sekretaris Korespondensi John Major.

Identitas wanita berusia 44 tahun ini terungkap setelah ia tampil dan diwawancara dalam film dokumenter berkisah tentang biara tempat ia bergabung. Joan Mary mengaku sebelum menjadi pelayan Tuhan telah melalui hari yang buruk, kecanduan alkohol dan mulai menjadi budak narkoba. “Aku pikir awalnya hidupku akan berada di jalur normal, bertemu seseorang, menikah, memiliki anak. Tapi itu bukan jalan yang dipilih oleh Tuhan untukku,” katanya.

Hari-harinya dihabiskan untuk beribadah dan bekerja dengan para biarawati lain di Connecticut. Sebagai pemula, tugasnya ialah mengepel lantai kapel dan merawat ternak di halaman biara. Lahir di Selandia Baru, Laura belajar di sebuah sekolah menengah kalangan borjuis berbiaya 24 ribu poundsterling per tahun. Lulus SMA, ia lolos seleksi masuk Oxford. Saat berada di kampus bergengsi inilah ia bertemu dengan Cameron. Selama setahun mereka memadu kasih, mulai musim semi tahun 1990 sampai musim panas tahun berikutnya. Keduanya bekerja di Kantor Pusat Konservatif, sebelum ia menjadi sekretaris korespondensi perdana menteri (saat itu) John Mayor. Adshead adalah seorang tokoh terkemuka dalam mempromosikan kebijakan pro-Eropa, sehingga ia mendapat julukan Nona Maastricht.

Koleganya ingat bahwa Laura mengalami kesulitan mengatasi patah hati dan mengambil cuti medis untuk mencoba dan mendapatkan lebih dari itu. Putus cinta dari Cameron, ia menggaet sejarawan Andrew Roberts, teman dekat Cameron. Kemudian ia terbang ke AS karena kecewa terhadap apa yang terjadi di Partai Konservatif. Selain itu ia pergi untuk mengejar gelar MBA. Saat itulah ia mulai senang mengunjungi biara di negeri itu untuk menenangkan diri.

Dia kemudian bekerja di biro iklan ternama Ogilvy. Di New York, ia lebur dalam pergaulan sosialita dunia dan hidup berfoya-foya. Ia pernah menggelar acara amal bersama Pangeran Albert dari Monako, berlibur di resor mahal Hamptons, dan tinggal di rumah mewah dengan sewa US$ 4.000 per minggu. Tahun 2008, kesadaran mulai timbul dan ia memutuskan untuk “menikahkan” dirinya dengan Tuhan.

Laura Adshead lahir di pedesaan Inggris. Dia dibesarkan di sebuah keluarga istimewa dengan semua perangkap kekayaan. Dia cantik, mempesona, dan cerdas dengan seluruh dunia di depannya saat ia menikmati masa kecilnya secara penuh. Tapi dia tidak pernah benar-benar melakukannya, mulai spiral menurun lambat yang ak-hirnya mengirimnya ke biara hidup sebagai Suster Maria.

Bintang Hollywood

Kesaksian luar biasa juga bisa kita dapat dalam diri Suster Dolores Hart, OSB . Dolores meninggalkan gemerlap dunia film di usia 25 tahun. Selama lima tahun berakting, Dolores membintangi 10 film dan beradu akting dengan aktor terkenal seperti George Hamilton dan Robert Wagner. Akting dan kecantikannya bahkan pernah disejajarkan dengan Grace Kelly. Di jamannya, Dolores juga pernah membuat cemburu para remaja putri Amerika Serikat karena mencium Elvis dalam film ‘King Creole’.

Dolores mengakui sejak awal masuk dunia selebritas Hollywood, ia sudah terpanggil untuk menjadi biarawati. Hingar bingar Hollywood malah membuatnya menjadi semakin religius.
“Saya ingat ketika menjalan kan syuting ‘King Creole’ bersama Elvis. Kami membaca Alkitab setiap sore sebelum pergi ke lokasi syuting,” ungkapnya.

Panggilan untuk menjadi biarawati sangat kuat sampai-sampai Dolores secara total meninggalkan dunia ke-artis-an di tengah puncak karir-nya. Dolores terakhir kali datang ke perhelatan Oscar pada tahun 1959. Sungguh sebuah pribadi luar biasa. Panggilan menjadi suatu hal yang lebih bersifat kekekalan baginya dibandingkan karier dan harta dunia yang fana. Lima tahun berkarya tak membuat Dolores dilupakan dunia Hollywood. Bahkan di usia senjanya, melalui ajang Oscar ini, dunia masih mengingat bagaimana seorang wanita cantik nan rupawan berani mengambil langkah tegap untuk meninggalkan segala kemewahan demi sebuah panggilan.

Dolores Hart adalah seorang wanita yang pernah berakting dalam sebelas film bersama Elvis Presley. Kala ia berada pada puncak karirnya, ia memilih menjadi biarawati Ordo Benediktin pada tahun 1963, segera setelah merilis film terbarunya “Come Fly With Me” paska tiga tahun kunjungannya ke sebuah biara suster-suster Benediktin. Tahun 1959 adalah tahun terakhir ia berada di Malam Penganugerahan Oscar, penghargaan prestisius dalam dunia perfilman dunia, sebelum ia memasuki biara.

Selama karir singkatnya, Dolores Hart muncul dalam 10 film, dan pada tahun 1959, ia meraih Penghargaan Teater Dunia dan nominasi Tony untuk perannya sebagai aktris. Dia sudah menjadi Katolik yang taat, dan kunjungan biara, katanya dalam film, memberinya rasa damai dan pembaharuan interior. Empat tahun kemudian, dia memutuskan untuk meninggalkan Hollywood, selamanya. Tak lama setelah menandatangani tanda tangan-sesi untuk film terakhir-nya, “Come Fly with Me”, sebuah komedi tentang tiga pramugari mencoba mencari suami.

Mengapa Dolores memilih panggilan menjadi biarawati? “Bagaimana Anda menjelaskan Tuhan? Bagaimana Anda menjelaskan cinta?“ Jawabannya sederhana dan penuh teka-teki. “Saya tidak pernah merasa saya meninggalkan Hollywood,” katanya. “Saya tidak pernah merasa saya meninggalkan apapun yang saya diberi. Biara itu seperti kasih karunia Allah yang baru saja memasuki hidup saya dengan cara yang benar-benar tak terduga – dan Allah adalah kendaraan. Dia lebih besar dari Elvis Presley. “

Lalu ada kisah lain. Apa sebenarnya yang dicari, ketika seorang perempuan yang diyakini merupakan biarawati terlama di dunia, yang telah menghabiskan 86 tahun hidupnya di biara?
Suster Barajuen masuk Biara Cistercian ketika berusia 19 tahun. Suster itu mengaku dalam sejumlah wawancara bahwa seperti banyak perempuan muda pada masa itu, dia tidak pernah berniat menjadi biarawati, tetapi akhirnya masuk biara karena dukungan keluarga.

Bagaimana mungkin ia bertahan dalam panggilannya tanpa melihat hiruk pikuk dunia bertahun-tahun? Pasti ada yang menguatkan pilihan hidupnya. Pasti ada yang menjadi kekuatan panggilannya. Pada 2011, ia meninggalkan kompleks biara itu untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 40 tahun guna menemui paus yang sekarang pensiun, yaitu Benediktus XVI selama kunjungan Benediktus ke Madrid. Anda bisa bayangkan dalam waktu yang begitu lama, tak sekalipun Sr. Barajuen keluar biara. Mustahil, jika tak ada kekuatan Tuhan yang menopang.

Suster Barajuen masuk biara tepat pada hari ketika ia dilahirkan. Ordo Cistercian merupakan ordo religius biarawati Katolik Roma. Mereka kadang-kadang juga disebut Bernardines. Penekanan gaya hidup Cistercian adalah pada kerja manual dan swasembada dan ia telah meninggal dunia di Spanyol pada usia 105 tahun. Ia merupakan seorang biarawati tertua yang pernah ada di muka bumi.

Bersama Sepanjang Hidup

Berbeda kisah dengan Suster Barajuen, ada dua biarawan kembar meninggal hanya berbeda jam. Uniknya, sepanjang hidupnya mereka tak pernah berpisah jarak. Hampir setiap waktu mereka menghabiskan aktivitas pelayanan bersama-sama. Dialah Julian dan Adrian Riester. Mereka tidak pernah menyebutkan siapa yang lahir lebih dulu. Biarawan Fransiskan yang terlahir kembar identik, meninggal dalam usia 92 tahun di hari yang sama, dengan selisih waktu hanya beberapa jam saja.

Julian dan Adrian Riester bersekolah di tempat yang sama, bepergian bersama-sama dan bergabung sama-sama dengan pelayanan Fransiskan. Keduanya meninggal akibat gagal jantung, seperti disampaikan oleh seorang biarawan di Florida, tempat mereka tinggal setelah pindah dari New York 2008 lalu. Mereka sebagian besar menghabiskan hidup mereka di st Bonaventure University di New York. “Ini merupakan akhir yang puitis dari perjalanan hidup mereka yang luar biasa. Kamu bisa pingsan jika mendengarkan ini, tetapi sangat mengejutkan mereka melakukan hampir seluruh aktivitas bersama,” kata juru bicara St Bonaventure, Tom Missel. Missel.

Di St Bonaventure, mereka bekerja sebagai tukang kayu dan tukang kebun, dan memiliki reputasi sebagai orang yang dapat memperbaiki apa saja. Mereka tinggal di kamar yang berbeda di biara St Bonaventure tetapi memiliki telepon yang menghubungkan kedua kamar.
Pria kembar itu, bernama asli Jerome dan Irving. Ketika bergabung dengan pelayanan Fransiskan, pada usia 20 an mereka menggunakan nama orang suci. “Mereka memiliki ikatan yang kuat, dan tidak ada yang egois,” kata sepupu mereka Michael Riester.

Kalau Anda pernah memandang biarawati hanya sebagai sosok yang suci, taat dan lemah lembut, mungkin ketika mengenal Sr. Teresa Forcades Anda akan tercengang. Suster Forcades, kelahiran 1966, dikenal sebagai salah-seorang biarawati paling berpengaruh, utamanya di kalangan pendukung sayap kiri di Eropa. Tahun ini, ribuan orang telah bergabung dalam gerakan anti-kapitalis yang dia kumandangkan secara terus-menerus dalam setiap kampanyenya – termasuk melalui situs berbagi video Youtube.

Sr. Teresa, yang mengaku menganut feminisme-Kristen, juga aktif mendukung kemerdekaan wilayah Katalan dari Spanyol. Peraih gelar Doktor bidang kesehatan masyarakat (2004) dan teologi (2009) ini juga menolak kebijakan pemerintah Spanyol dalam menangani krisis ekonomi di negara itu.Dalam berbagai kesempatan, dia juga menyarankan program nasionalisasi terhadap bank-bank dan perusahaan energi – yang kini dikuasai swasta.

Suara-suara kritisnya terus menggema dan menyentakkan banyak orang, dan membuatnya sekarang dikenal sebagai tokoh berpengaruh. Walaupun getol mengkritik kebijakan pemerintah Spanyol, biarawati ini tidak pernah tertarik untuk menjadi politisi dengan mendirikan partai politik atau menjadi pejabat lokal. Melalui gerakan yang diberi nama Proces Constituent, Teresa Forcades saat ini mampu menggerakkan sekitar 50.000 orang warga Katalan, utamanya pendukung sayap kiri, untuk mendaftar dalam gerakannya itu.
Bagaimanapun, tidak dapat disangkal, Teresa adalah tokoh politik yang memiliki misi, yaitu meruntuhkan kapitalisme internasional dan mengubah peta Spanyol.

Sebulan lalu, kita dikejutkan seorang biarawati muda yang menjadi sensasi di internet setelah muncul di acara The Voice versi Italia. Ajaibnya ia memenangkan kontes cari bakat di televisi itu. Suster Cristina Scuccia, dengan memakai pakaian biarawati dan salib di lehernya, bersyukur kepada Tuhan atas kemenangannya tersebut.

Penampilan perdananya dalam kontes itu ketika membawakan lagu Alicia Keys “No One” telah meraih hits lebih dari 50 juta di YouTube. Suster berusia 25 tahun itu mengatakan, dia percaya lagu-lagu yang dibawakannya mengekspresikan “keindahan Tuhan”. “Kehadiran saya di sini bukan untuk diriku, ini berkat Dia di atas sana! Saya tidak berada di sini untuk memulai sebuah karier tetapi karena saya ingin menyampaikan sebuah pesan.”

Suster Cristina menambahkan bahwa ia mengikuti seruan Paus Fransiskus, yaitu membuat Gereja Katolik lebih dekat dengan orang-orang biasa. Dia kemudian mengucapkan “Doa Bapa Kami” di atas panggung. Saat berbicara menjelang final , ia mengaitkan popularitasnya dengan “kehausan akan sukacita, cinta, sebuah pesan yang indah dan murni”. Suster Cristina, yang ordo religiusnya berbasis di Milan, mengatakan, dia akan dengan senang hati pulang untuk bernyanyi bersama anak-anak di kapel.

Menyimak kesaksian hidup mereka, semoga kita semua diyakinkan bahwa panggilan melulu karya Tuhan. Panggilan merupakan rahasia Ilahi. Ia yang Maha Besar memanggil setiap pribadi dengan cara-Nya. Tinggal keterbukaan hati kita saja yang di minta. Tuhan tak mempertimbangkan seberapa besar kesalahan dan kedosaan kita. Tuhan tak mensyaratkan dari atau golongan mana kita berasal. Tuhan meminta hati kita untuk menyerahkan diri secara total tanpa syarat. Orang muda, beranikah Anda? Pasti!
este antoro

By esteantoro
Gambar

Kita butuh Imam!

Kita butuh Imam!

Gereja membutuhkan doa-doa dari umat untuk panggilan hidup bakti. Umat di ajak ikut terlibat dalam mendoakan para imam serta biarawan-biarawati. Kesempatan ini kita juga berharap tumbuh benih-benih panggilan baru bagi gereja. Sebagai umat, kita minta kepada Allah yang Maha Kudus agar tidak menelantarkan kita tanpa adanya gembala. Kita minta agar para calon imam sungguh diberi semangat kegembalaan penuh dengan iman, hidup rohani yang tangguh dan ilmu ketrampilan yang memadai. Dan akhirnya kita juga mendoakan, jika Allah tidak menghendaki mereka menempuh jalan imamat atau hidup sebagai biarawan-biarawati, semoga mereka tetap percaya akan kebijaksanaan Tuhan. Dengan doa, kita membantu mereka menerima dengan jiwa besar dan hati yang pasrah. Diharapkan umat tidak menstigma mereka melainkan menerima kenyataan ini dengan hati terbuka dan membantu dia untuk menemukan jalan hidup yang lebih sesuai dengan kehendak Tuhan. Walaupun tidak dalam jumlah yang banyak, tampak kehadiran beberapa umat yang setia mendoakan imam serta biara-biarawati di sebuah gereja. ST

By esteantoro

@Pontifex, Akun Twitter Resmi Paus Benediktus XVII

Paus Benediktus membuka akun Twitter untuk menyebarkan pesan-pesan Gereja Katolik Roma. Seorang pejabat Vatikan, Greg Burke, mengatakan bahwa Paus Benediktus akan mulai mengirimkan pesan Twitter pada tanggal 12 Desember untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Paus akan menjawab pertanyaan itu dalam bahasa Inggris serta tujuh bahasa lain, termasuk Arab, Perancis, dan Spanyol.

Pejabat Vatikan mengatakan, Paus menggunakan nama “@pontifex” di akun Twitter karena kata itu berarti “pembangun jembatan” dan mengacu pada “Paus”.

“Kami akan menyebarkan pesan-pesan spiritual. Paus tidak akan berjalan dengan Blackberry atau iPad… Ia akan mengirim pesan Twitter atas apa yang ingin ia katakan,” kata Burke.

Pesan Twitter pertama tanggal 12 Desember akan ditulis langsung oleh Paus. Namun, pesan-pesan berikutnya akan ditulis oleh para pembantunya.
 Sebagian besar pesan Twitter Paus akan berisi inti misa mingguan dan pesan-pesan khusus menyangkut peristiwa besar dunia, termasuk bencana alam.

Vatikan mengatakan, Paus akan menggunakan format tanya jawab dalam sesi pertama Twitter-nya dengan jawaban terkait agama, maksimal 140 karakter.

Vatikan telah mengundang orang untuk mulai mengirimkan pertanyaan.

Gereja Katolik telah menggunakan beberapa media sosial untuk berkomunikasi dengan umat, terutama anak muda, termasuk melalui SMS dan YouTube.

Akun Twitter Vatikan sendiri diikuti oleh sekitar 110.000 orang.

Para pembantu Paus mengatakan, pemimpin tertinggi umat Katolik dunia ini sendiri lebih senang menulis tangan dibandingkan menggunakan komputer.

 

Sekitar 10 jam setelah Vatikan mengumGambarumkan bahwa Paus Benediktus XVI memiliki akun Twitter, akun @Pontifex telah memiliki follower sebanyak seperempat juta orang. Itu baru di akun @Pontifex yang berbahasa Inggris. Ribuan lainnya menjadi follower di delapan akun bahasa yang berbeda lainnya. Itu terjadi saat Paus Benediktux XIV belum mengirimkan satu tweet pun.

Greg Burke, penasehat komunikas Vatikan, mengatakan akun @Pontifex dipilih karena kata itu tidak hanya berarti Paus dalam bahasa latin namun juga berarti pembangun jembatan yang bisa diartikan sebagai pembuat persatuan.

Seberapa sering Paus akan mengeluarkan tweet? “Sesering dia mau,” ujar Burke.

“Meski Paus tidak akan selalu membawa Blackberry atau iPad setiap saat, saya bisa menjamin bahwa apa yang di-tweet di @Pontifex adalah benar kata-kata Paus,” tegas Burke. (AP/bbs)

 

By esteantoro

Gereja Betlehem Masuk Daftar Warisan Budaya Dunia Unesco

Warga Palestina menyambut baik keputusan UNESCO untuk memberikan status warisan budaya dunia yang terancam untuk Gereja Kelahiran Yesus di Betlehem ini. Sebanyak 21 anggota komite yang bertemu di St. Petersburg, Rusia, memilih dengan suara 13 setuju, enam menolak, sementara dua tidak memilih.
UNESCO menggunakan pendekatan darurat untuk mempertimbangkan pencalonan Palestina dengan memerlukan waktu yang jauh lebih pendek dari masa 18 bulan yang biasanya dibutuhkan. Sementara itu Duta Besar Amerika Serikat untuk UNESCO, David Killion, mengatakan Amerika Serikat amat kecewa dengan keputusan UNESCO tersebut.
Permohonan untuk menjadikannya sebagai warisan budaya antara lain menyebutkan alasan kurangnya restorasi gereja karena masalah politik sejak Israel menduduki wilayah itu sejak tahun 1967.Pembatasan perjalanan oleh Israel, menurut Palestina, membuat peralatan dan bahan-bahan untuk keperluan restorasi jadi terhambat.
Beberapa ahli berpendapat, gereja itu memang memerlukan perbaikan antara lain atapnya yang bocor namun tidak dilihat berada dalam ancaman kehancuran, kriteria yang biasanya digunakan untuk prosedur permohonan darurat. Berdasarkan catatan UNESCO, Betlehem memiliki nilai universal yang luar biasa yang tidak perlu dipertanyakan. Tempat ini menjadi fokus beribadah umat Kristen selama berabad-abad, serta Yerusalem menjadi jantung bagi umat Kristen di dunia.
“Tidak ada situs lain di dunia yang memiliki nilai religius yang luar biasa yang mampu mendatangkan dua miliar umat Kristen. Dan hanya ada satu situs di dunia yang mendapatkan kehormatan menjadi tempat kelahiran Yesus,” tulis UNESCO. Bersama 36 nominasi warisan budaya lain dalam rapat 24 Juni – 6 Juli lalu di St. Petersburg, Rusia, UNESCO menentukan Gereja Betlehem ini sebagai salah satu warisan budaya dunia. MarsGambar

By esteantoro

Kerangka Yohanes Pembaptis Ditemukan di Sveti Ivan Bulgaria

GambarNasib jenazah Yohanes Pembaptis menjadi topik yang terus diperdebatkan hingga hari ini. Terutama bagi para pakar yang mendalami Kitab Suci. Para ilmuwan meyakini bahwa tulang-tulang yang ditemukan pada reruntuhan sebuah gereja di Bulgaria yang runtuh pada tahun 2010 lalu ialah kerangka milik Yohanes Pembaptis, orang yang membaptis Yesus Kristus.
Tulang ini ditemukan bersama dengan sisa-sisa tulang belulang enam manusia lainnya. Terdiri dari sebuah tulang buku jari tangan kanan, gigi, tulang rusuk, tulang hasta, dan tulang lengan bawah. Reliks yang diklaim sebagai tulang milik Yohanes, ditemukan dalam sebuah penggalian di Pulau Sveti Ivan “St John”, Bulgaria. Reliks tersebut dikuburkan di dalam sebuah peti kecil yang terbuat dari batu pualam lalu dibenamkan di bawah altar gereja.
Sebelumnya, para arkeolog menemukan tulang belulang pada sebuah kotak yang terbuat dari abu vulkanik yang mengeras dibenamkan di bagian sudut tua dari gereja. Kotak ini bertuliskan tulisan Yunani yang menyebutkan Yohanes Pembaptis dan tanggal kelahirannya. Berdasarkan tes DNA dan radiokarbon, menunjukkan bahwa kemungkinan tulang itu milik seorang pria Timur Tengah yang hidup pada abad 1 Masehi. Ini sesuai dengan kisah Yohanes Pembabtis. Di dalam Kitab Suci tertulis, Yohanes adalah saudara sepupu dari Yesus, jika tulang tersebut benar milik Yohanes, ini berarti para peneliti memiliki kemungkinan menemukan DNA yang mirip Yesus, meskipun hal ini sangat sulit untuk dibuktikan.
“Masalahnya adalah kami tidak memiliki dasar untuk perbandingan. Kami tidak memiliki bagian yang kuat, yaitu potong-an tulang baik yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis maupun Yesus,” kata Thomas Higham, seorang ilmuwan arkeologi dari Universitas Oxford, Inggris yang juga anggota tim peneliti.
Dengan demikian, penelitian yang disponsori National Geographic Society’s Expeditions Council ini belum dapat menyimpulkan apakah tulang belulang itu benar-benar milik Yohanes Pembaptis. Pada abad keempat dan kelima mulai bermunculan laporan tentang tulang-tulang tersebut yang konon ditempatkan di berbagai gereja dan dijadikan sebagai tempat suci. Hal ini mendorong minat para peziarah untuk datang berkunjung.
“Kami pikir gereja ini ada pada abad kelima, ini memberikan informasi kepada kami mengenai usia minimum dari berbagai material yang ada. Dan kita juga berpikir bahwa tulang-tulang tersebut ada sejak abad keempat dan kelima juga. Tapi kami terkejut ketika mengetahui ternyata tulang tersebut lebih tua dari itu,” ujar Higham. Mars

By esteantoro

Octovina Reba Bonay : Melayani Masyarakat dari Kampung ke Kampung

Pemenang “Frans Seda Award” Bidang Kemanusian jatuh kepada Octovina Reba Bonay. Octovina  adalah pejalan kaki di kampung-kampung terpencil di Papua.

Universitas Atma Jaya menggelar “Fans Seda Award’ Bidang Kemanusiaan dan Bidang Pendidikan.
Para pemenang mendapatkan Sertifikat dan uang sebesar Rp50 juta. Penyerahan penghargaan dilakukan pada saat peringatan 1000 hari wafatnya  Frans Seda pada 29 September 2012 di Universitas Atma Jaya, Jakarta.

Octovina Reba Bonay, seorang bidan dari Papua terpilih untuk mendapatkan penghargaan. Batas usia kandidat adalah 40 tahun. Dari 100 aplikasi calon kandidat kemudian disaring melalui berbagai mekanisme seperti kunjungan mencari masukan hingg akhirnya terpilih dua terbaik dari calon yang  diusulkan,” kata .Prof Irwanto anggota dewan juri Perwakilan dari Unika Atma Jaya.
alasan mengapa juri memilih Octovina dan Christanti sebagai pemenang adalah karena mereka memiliki ide orisinil, pekerja keras, berintegritas tinggi dan memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan sesuatu yang sudah mereka lakukan.
Octavina Reba Bonay seorang bidan yang tidak mempermasalahkan jarak, waktu dan kesulitan medan yang harus ia tempuh untuk melakukan tanggung jawabnya terhadap kesehatan warga di kampung-kampung yang berada di pelosok Papua.
Pemenang Bidang Kemanusiaan adalah Octovina Reba Bonay, perempuan, 39 tahun, bidan pejalan kaki di kampung-kampung terpencil Papua. Persoalan jarak, waktu dan kesulitan medan, serta minimnya perhatian pemerintah tidak ia pandang sebagai alasan untuk mengelak dari tanggung jawab terhadap kesehatan warga di kampung-kampung yang jauh sampai di tapal batas negeri ini. Menurutnya, kampung-kampung merupakan tolok ukur pelayanan sehingga kesanalah orang harus berkiprah langsung meski dibayang-bayangi risiko cukup tinggi akibat kesulitan tenaga, peralatan dan obat. Untuk tugas itu, ia rela berjalan kaki ke kampung-kampung kecil yang belum bisa dilalui kendaraan dan menembus hutan pada malam hari. Untuk mendukung karyanya, ia kembangkan jejaring dengan puskesmas dan puskesmas pembantu, serta ia kembangkan regenerasi dengan bidan-bidan junior.
Postur tubuhnya sedang saja dan langsing. Sopan dan murah senyum adalah kesan yang akan didapati bila bertemu dengan ibu yang satu ini, anak dari pasangan Hofni Reba (almarhum) dan Paulina Arobaya.
Ibu Bonay, demikian ia biasa disapa, lahir dan besar di Kampung Dawai pada 15 April 1973. Ia masuk Sekolah Dasar Inpres Dawai. Tamat pada 1986. Lalu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Serui. Selesai 1989. Bercita-cita menjadi perawat, ia memilih masuk di Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) Jayapura. Lulus pada 1992.
Ia melanjutkan lagi pendidikan ke Diploma 3 Kebidanan selama setahun. Tamat pada 1993. Ia langsung bertugas sebagai bidan di Kampung Waren (Serui). Lalu pindah ke salah satu puskesmas di Serui kota dan bertugas di sana hingga 1996. Ia kemudian pindah ke Arso mengikuti sang suami, Nathan Bonay yang ketika itu ditugaskan di sana. Nathan kini kepala distrik Arso Timur.
Di Arso, Octovina bertugas di Puskesmas Distrik Arso (kini Distrik Skanto) yang saat itu masih dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Jayapura. Dengan pengetahuan medis yang diperolehnya, ia berupaya melayani masyarakat di sini dengan baik. Ketika Arso dimekarkan menjadi kabupaten terpisah dari Kabupaten Jayapura, sang suami ditarik dan ditempatkan di BPMD. Selanjutnya, ditetapkan sebagai kepala Distrik Arso Timur hingga kini. Karena mengikuti suami, Octovina pun pindah ke Distrik Arso Timur.
Kecintaan untuk melayani masyarakat tetap melekat pada ibu dua anak ini. Pelayanan kesehatan terus dilakukan dari kampung ke kampung di Distrik Arso Timur. Untuk tugas itu, ia rela berjalan kaki ke kampung-kampung kecil yang belum bisa dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Kadang kala ia dan suami pulang malam hari; berjalan di tengah hutan belantara menggunakan senter.
Berjalan kaki dari kampung ke kampung. Memanggul atau menjinjing obat dan peralatan kesehatan; mandi hujan, melintasi lumpur, kena duri, digigit lintah dan nyamuk. “Itu bukan hambatan, karena saya tahu itu talenta yang Tuhan berikan kepada saya untuk melayani masyarakat di sana,” paparnya.
Karena banyaknya perkerjaan dan kegiatan, ibu dari Grace Malanesia Putri Bonay ini juga jarang bersama kedua anaknya. Kadang kala ia pergi saat kedua buah hatinya itu masih tertidur dan pulang pun saat mereka sudah pulas. Beruntung mereka memahami pekerjaan kedua orangtua.
Persoalan jarak, waktu dan kesulitan medan tak ia pandang sebagai alasan untuk mengelak dari tanggung jawab terhadap kesehatan warga di kampung-kampung yang jauh. Ia menganggap pekerjaaannya sebagai seni. Karena, katanya, kampung-kampung merupakan tolok ukur pelayanan, ke sanalah orang harus berkiprah langsung. Bukan di kota, kabupaten atau provinsi.
Sebab, begitulah kenyataan umum di Papua yang akan dihadapi oleh siapa pun yang memilih pekerjaan atau profesi seperti dirinya. Beruntunglah ia punya suami yang sama-sama suka dan terbiasa dengan pekerjaan yang menantang. Bukan sesuatu yang luar biasa, jika keduanya saling mendukung pekerjaan masing-masing.
Sebagai “abdi masyarakat,” ketika sang suami berjalan kaki untuk menyampaikan progam pemerintah, atau sekadar mengunjungi warga di kampung-kampung, sang isteri mendampingi untuk memeriksa kesehatan dan melakukan pengobatan.
Begitu pula sebaliknya, jika isteri yang punya jadwal pengobatan di kampung-kampung tertentu, suami mengiringi untuk bertatap muka dengan warga seraya mendengarkan langsung kebutuhan mereka.
Selain sebagai perawat, Ibu Bonay juga menjabat sebagai ketua PKK Distrik Arso Timur. Lantaran, perjalanan ‘turkam’ yang sering dilakukan bersama sang suami atau dengan tim kesehatan, ia sangat akrab dengan persoalan utama yang dihadapi warga di kampung-kampung di Distrik Arso Timur. Ia menilai buruknya kondisi kesehatan dan pendidikan di kampung-kampung disebabkan masih minimnya perhatian pemerintah.

 este antoro

By esteantoro

“Api” dari Giri Wening

Tempat ziarah dan doa umat Katolik Gua Maria Giri Wening  “Wahyu Ibu-Ku” itu kini semakin menjadi pusat perhatian. Berlokasi di RT 02/RW 04 Dusun Sengon Kerep, Desa Sampang, Kecamatan Gedangsari membawa keheningan.


Di Gua Maria pengunjung dapat menyaksikan pano-rama alam yang unik. Tebing besar, batu-batu alam bermotif hitam melengkapi keheningan bagi umat Katolik yang berdoa disana. Tempat ziarah di pucuk bukit itu terletak di atas tanah seluas 2.088 meter persegi. Pemilik tanah adalah ibu Gito Suwarno. Almarhum Gito adalah salah satu umat Katolik pertama di Sengon Kerep yang memiliki enam putra, dua di antara me-reka menjadi bruder dan frater.
Menurut cerita, warga kerap bermeditasi di lokasi itu dan mendapat inspirasi religius. Hal itu lalu dibicarakan dengan pastor Paroki Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah orang sepakat mendirikan tempat ziarah dan doa disana. Kemudian ada penggalangan dana untuk membeli patung besar.
Keberadaan Gua Maria juga dinilai potensial menggairahkan perekonomian Dusun Sengonkerep. Pembangunan dikerjakan mulai 2010. Disana sebenarnya sudah ada kapel. Panitia pembangunan lalu beranggapan Gua Maria itu merupakan fasilitas tambahan untuk berdoa bagi kapel itu.
Pembangunan sempat berjalan meski kemudian berhenti sejak Februari 2012. Panitia sudah berusaha melengkapi berkas-berkas permohonan IMB itu. Gua Maria ini jauh dari balai desa apalagi pusat Paroki. Menurut Sumarno, Gua Maria didirikan untuk kepentingan doa dan tidak bisa dibatasi asal pengunjungnya. “Tapi tujuan pertama untuk kepentingan warga Sengon Kerep,” kata Sumarno.
Ketua Panitia Pembangunan, Sunardi, berharap kerukunan dan persatuan dalam masyarakat yang majemuk dapat tercipta. “Bhinneka Tunggal Ika itu adalah sesuatu yang sangat indah,” kata Sunardi melalui surat yang juga ditandatangani oleh pastor Paroki Wedi, Rm. YB. Triantoro.
Salah seorang warga Sengonkerep yang ditemui Harian Jogja beberapa waktu lalu tidak tahu kalau Gua Maria ini sedang dibicarakan banyak orang. “Enggak apa-apa ada Gua Maria, malah Sengon Kerep jadi ramai,” katanya. Di sisi lain, ada kelompok yang menolak pembangunan Gua Maria dengan alasan belum ada izin dan kurang proporsional dengan keberadaan tempat ibadah lain karena sudah ada kapel di Sengon Kerep.
Taman Maria tersebut menempel pada bongkahan batu yang membujur sepanjang 4 km, yang biasa disebut Watu Gedhek  terletak di Dukuh Sengon Kerep, Kel. Sampang, Kec. Gedangsari, Gunung Kidul, DIY,  pada pegunungan Seribu antara Kabupaten Klaten dan Gunung Kidul. Taman Maria tersebut berada dalam reksa pastoral paroki Wedi, Klaten.
Pecahan Wilayah Mawen, dirintis awal oleh almarhum Mbak Kirno dan Mbah Harjo, keduanya katekis dari Wilayah Mawen tahun 1970-an, Sengon Kerep akhir-nya menyandang predikat sebagai wilayah mandiri. Kini, di Wilayah Sengon Kerep ada setidaknya 32 KK sekitar 120-an orang umat Katolik.
Kapel sederhana Sengon Kerep sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Yang kini tengah dibangun berupa areal Taman Maria Giri Wening itu bukan termasuk kategori “gereja” atau “tempat ibadat”.
Taman doa, kata sumber Sesawi.Net, di Paroki Wedi,  yang ada hanyalah semacam taman asri dengan ornamen-ornamen ukiran pada batu yang menggambarkan Bunda Maria menggendong bayi Yesus. “Jadi, fungsi utamanya lebih sebagai perangkat pendukung suasana orang berdoa, karena kapel sudah berdiri sejak lama,” tuturnya.
Mayoritas penduduk sekitar bermata pencaharian sebagai buruh tani, tukang. Dulu, ketika masih banyak kayu bakar di hamparan perbukitan Pegunungan Seribu di Gunung Kidul tak jauh dari Gunung Jambu, penduduk lokal sekitar Sengon Kerep seperti Teluk, Sampang dan lainnya suka membawa bongkahan kayu-kayu bakar untuk  kemudian dipasarkan di sepanjang jalan utama antara Kecamatan Wedi dan Pasar Wedi.
Menuju Sengon Kerep, jalan paling nyaman dan enak menuju Sengon Kerep adalah dari Pertigaan Bendo Gantungan, Klaten. Kalau dari arah Timur (Solo), maka Bendo Gantungan terletak kurang lebih 300 meter selepas RSUD Soeradji Tirtonegoro atau lebih populer disebut RS. Tegalyoso Klaten  (posisi di kanan jalan).  Kalau dari arah Barat (Yogya, Prambanan), maka Pertigaan Bendo Gantungan terletak kurang lebih 5 km setelah Pabrik Gula Gondang Winangun (posisi di kiri jalan).
Pertigaan Bendo Gantungan itu sendiri dulunya dikenal sebagai stansplat (terminal) bus, meski jejaknya kian pudar karena kini terminal kecil bus ini lebih banyak diisi dokar dan becak. Namun, awak-awak bus antar kota dan dalam kota masih mengakrabi Bendo Gantungan sebagai terminal bus ukuran mini.
Dari Pertigaan Bendo Gantungan, ambil jurusan arah ke Kecamatan Wedi. Kalau dari arah Timur, berarti belok ke kiri. Sementara dari arah Barat, ambil belokan ke arah kanan. Ikuti lurus jalan kabupaten yang merupakan akses utama dari Klaten menuju Wedi ini. Abaikan pertigaan besar yang bercabang dua, kalau ke kiri arah Depo –pusat latihan tempur Rindam Kodam Diponegoro. Sementara ke kanan adalah jalan yang benar menuju arah Kecamatan Wedi.
Nanti akan melewati RS. Jiwa Koloni (posisi di kiri jalan) dan sebentar kemudian akan memasuki kota kecil Kecamatan Wedi.
Selepas jembatan besar Kali Wedi, maka kita akan menuju “pusat kota” Wedi yakni Tugu, Kecamatan Wedi, Pasar Wedi dan akhirnya kompleks panjang PTP Perkebunan Tembakau – dulu bernama PPN. Gereja Wedi ada di ujung jalan masuk ke arah kanan selepas Pasar Wedi dan berseberangan dengan SD Kanisius II Susteran dan Kompleks Susteran Abdi Kristus Wedi.
Akses menuju Sengon Kerep menempuh jalur lurus arah Canan – Pesu – Mawen – Teluk – Jogoprayan, hingga akhirnya sampailah ke Gunung Tumpang, Kelurahan Sampang. Masih perlu sedikitnya 2.5 km lagi menaiki jalan menanjak  untuk sampai ke Sengon Kerep.
Secara administratif pemerintahan, Sengon Kerep masuk wilayah Kelurahan Sampang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Namun secara reksa pastoral gerejani, Wilayah Sengon Kerep masuk masuk wilayah Paroki Wedi. Nah, Paroki Wedi itu sendiri termasuk wilayah administratif Kabupaten Klaten.
Darimana munculnya sejarah hingga Taman Maria Giri Wening di Wilayah Gerejani Sengon Kerep di Paroki Wedi itu berasal?
Awal mulanya adalah keluarga orangtua Bruder Y. Yuwono SCJ yang ingin membagi warisan kepada anak-anaknya. Nah, kebetulan sekali kedua anak pasangan Katolik ini sama-sama anggota Kongregasi SCJ yakni Bruder Y. Yuwono SCJ sendiri dan adiknya yang waktu itu masih berstatus sebagai frater skolastik SCJ.
Singkat cerita, Bruder Y. Yuwono juga mendapat bagian tanah warisan peninggalan orangtuanya. Namun karena menjadi seorang rohaniwan SCJ, Bruder Yuwono tak mungkin mengurusi warisan tanah peninggalan orangtuanya itu. Begitu pula Kongregasi SCJ juga tak mampu mengurusi hal-hal seperti itu.
Akhirnya, muncullah gagasan akan dibuat semacam taman berdoa. Diberi nama “Taman Maria” lantaran di taman ini berdiri patung Bunda Maria.
Donatur gayung pun bersambut. Seorang donatur dari Solo merespon baik gagasan tersebut dan berminat mendukung  dalam pembiayaan prasarana tempat berdoa ini. Ternyata sambutan masyarakat setempat juga tak kalah ‘heboh’nya. Intinya, mereka senang  bisa mewujudkan taman berdoa, termasuk pembuatan patung Hati Kudus Yesus yang idenya baru muncul belakangan.
Respon masyarakat setempat menjadi nyata, ketika mereka komit sumbang tenaga membangun taman berdoa ini. Harapan bahwa taman berdoa ini akan ramai dikunjungi para peziarah makin besar, apalagi tak jarang peziarah luar kota yang mendatangi Sendang Sri-ningsih di Jali juga tak mau melewatkan berdoa di taman berdoa relatif baru ini.
Masyarakat setempat yang non kristiani juga mendapatkan ‘berkat’ berlimpah karena bisa berjualan atau jasa mengantar tamu.
St. Antoro, Frans Erbe, Christian AW

By esteantoro

Laura Adshead: Kaya, Cantik dan Cerdas Hanya untuk Tuhan

Perdana Menteri Inggris, David Cameron dulu memiliki kekasih yang juga sosialita di Inggris. Laura Adshead nama si wanita tersebut kini berganti Joan Marry, dan menjadi seorang biarawati “The Abbey of Regina Laudis” di Connecticut, Amerika Serikat.

Laura sebelum menjadi biarawati sebenarnya memiliki jejak prestasi yang lumayan. Ia lulusan Universitas Oxford, pernah bekerja di Kantor Partai Konservatif Inggris dan menjadi Sekretaris Korespondensi John Major.
Identitas wanita berusia 44 tahun ini terungkap setelah ia tampil dan diwawancara dalam film dokumenter berkisah tentang biara tempat ia bergabung. Joan Mary mengaku sebelum menjadi pelayan Tuhan telah melalui hari yang buruk, kecanduan alkohol dan mulai menjadi budak narkoba.
“Aku pikir awalnya hidupku akan berada di jalur normal, bertemu seseorang, menikah, memiliki anak. Tapi itu bukan jalan yang dipilih oleh Tuhan untukku,” katanya.
Hari-harinya dihabiskan untuk beribadah dan bekerja dengan para biarawati lain di Connecticut. Sebagai pemula, tugasnya ialah mengepel lantai kapel dan merawat ternak di halaman biara.
Lahir di Selandia Baru, Laura belajar di sebuah sekolah mene-ngah kalangan borjuis berbiaya 24 ribu poundsterling per tahun. Lulus SMA, ia lolos seleksi masuk Oxford. Saat berada di kampus bergengsi inilah ia bertemu dengan Cameron.
Selama setahun mereka memadu kasih, mulai musim semi tahun 1990 sampai musim panas tahun berikutnya. Keduanya bekerja di Kantor Pusat Konservatif, sebelum ia menjadi sekretaris korespondensi perdana menteri (saat itu) John Mayor. Adshead adalah seorang tokoh terkemuka dalam mempromosikan kebijakan pro-Eropa, sehingga ia mendapat julukan Nona Maastricht.
Koleganya ingat bahwa Laura mengalami kesulitan mengatasi patah hati dan mengambil cuti medis untuk mencoba dan mendapatkan lebih dari itu. Putus cinta dari Cameron, ia menggaet sejarawan Andrew Roberts, teman dekat Cameron. Kemudian ia terbang ke AS karena kecewa terhadap apa yang terjadi di Partai Konservatif. Selain itu ia pergi untuk mengejar gelar MBA. Saat itulah ia mulai senang mengunjungi biara di negeri itu untuk menenangkan diri.
Dia kemudian bekerja di biro iklan ternama Ogilvy. Di New York, ia lebur dalam pergaulan sosialita dunia dan hidup berfoya-foya. Ia pernah menggelar acara amal bersama Pangeran Albert dari Monako, berlibur di resor mahal Hamptons, dan tinggal di rumah mewah dengan sewa US$ 4.000 per minggu.
Tahun 2008, kesadaran mulai timbul dan ia memutuskan untuk menikahkan dirinya dengan Tuhan. Nama Adshead muncul lagi saat turut berbicara dalam film dokumenter berjudul God is the Bigger Elvis. Film ini difokuskan pada kehidupan kepala biara, Dolores, 73 tahun. Dolores dulu dikenal sebagai Dolores Hart, bintang muda Hollywood yang mencium Elvis Presley ketika keduanya sama-sama membintangi King Creole dan Lovin’ You.
Laura Adshead lahir di pedesaan Inggris. Dia dibesarkan di sebuah keluarga istimewa dengan semua perangkap kekayaan. Dia cantik, mempesona, dan cerdas dengan seluruh dunia di depannya saat ia menikmati masa kecilnya secara penuh.
Tapi dia tidak pernah benar-benar melakukannya, mulai spiral menurun lambat yang ak-hirnya mengirimnya ke biarawati hidup ‘sebagai Suster Yohanes Maria.
Tapi pertama, setelah lulus, Laura Adshead menggunakan koneksi politiknya untuk mendapatkan pekerjaan dengan Perdana Menteri Inggris pada saat itu. Sementara sayangnya David juga anggota staf di Kantor Pusat Konservatif, yang merupakan markas besar partai di London. Akhirnya tidak mampu bekerja begitu dekat dengan pria yang pernah dicintai, Adshead berimigrasi ke Amerika Serikat di mana ia menghadiri sekolah Wharton bisnis di pantai timur. Disana ia memperoleh gelar MBA dan kemudian bekerja untuk sebuah biro iklan di New York City. Pada saat itu ia membuat ton uang dan tampaknya ditakdirkan untuk sukses duniawi.
Namun semua itu nyatanya sementara. Ia tidak pernah melupakan pacarnya. Dia adalah cinta sejati dalam hidupnya tapi dia sudah lama pindah, menemukan wanita lain dan ia akhirnya menikah. Dia belum pernah merasakan rahmat kasih karena cowok dan Laura tidak mampu mengatasi bahkan mencoba. Laura mulai turun ke dalam kehidupan kecanduan obat dan alkohol. Wanita yang tampaknya memiliki segala sesuatu bahan – kecantikan, kekayaan, dan awal dari ketenaran, mulai membuang semua itu.
Di bagian bawah batu dengan tempat lain untuk berpaling, Adshead akhirnya menemukan pelipur lara di Abbey dari Regina Laudis bawah Peraturan ketat St. Benediktus, sebuah biara Benediktin di pedesaan Betlehem Connecticut.
Disana ia tinggal saat ini dengan tujuan baru dalam hidup akhirnya. Di atasnya ia berjuang mengatasi sebagai mantan pacar seorang perdana menteri, pertempuran dengan obat-obatan dan alkohol, dan ketidakmampuannya untuk mencintai pria lain lagi.
Dan sekarang ceritanya termasuk dalam dokumenter ‘Allah adalah Elvis lebih besar’, yang difokuskan pada kehidupan biarawati lain, Ibu Dolores (sebelumnya aktris Dolores Hart). Di dalamnya Anda dapat mendengar Laura membahas pengalamannya dengan Alcoholics Anonymous, dan ingat hidupnya sebagai Laura Adshead, dengan masa depan cerah di dunia materi, hubungan fatal, penurunan itu kemudian akhirnya menghasilkan kelahiran kembali dirinya yang baru sebagai Suster Yohanes Maria. Dia menyelesaikan pembersihan nya dengan sumpah selibat pada tahun 2008. 

Este Antoro

By esteantoro

RIP: USKUP ISAK DOERA,PR “KESEMBUHAN ABADI” SANG PENCINTA MARIA

Perjalanan imamat saya merasakan sekali penyertaan Maria dalam seluruh perjalanan hidup saya maka motto yang saya pakai adalah ‘Cum Maria ad Jesum’ Bersama Maria Menuju Yesus (kutipan pesta emas tahbisan imamat Mgr. Isak Doera)

Tangis Marta tak terbendung. Adik kandung mantan Uskup Sintang, Kalimantan Barat itu tak menyangka hari ini akan menjadi hari terakhir bersama sang kakak. Mgr. Isak Doera meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Carrolus, Jakarta, Sabtu (19/5 /2012) pukul 10.10. “Hari ini pesta ke-35 tahun pesta tahbisan uskupnya dan juga tanggal ayah kami meninggal,” ujarnya kepada wartawan BM St. Antoro.
Ditambahkan Mgr. Agustinus Agus, sebelumnya mantan Uskup Sintang ini sudah beberapa kali masuk RS yang sama dengan perawatan intensif. Dijelaskan pula, Mgr. Isak Doera pada hari Minggu (06/05/2012) kondisinya sudah lemah dan sulit untuk diajak bicara.
“Beliau begitu lemah karena tidak bisa makan lagi bahkan sulit diajak untuk berkomunikasi lagi. Harapan kita Beliau dapat sembuh, tapi Tuhan berkehendak lain untuknya,” kata Agustinus Agus yang mengaku terus memantau perkembangan Isak Doera melalui petugas RS via seluler.
Misa requiem untuk almarhum Mgr. Isak Doera Prakan berlangsung di Rumah Duka RS. Sint. Carolus, hari Minggu (20/5) pukul 19.00 WIB. Jenasah diberangkatkan menuju Gereja Katedral Jakarta. Disana jenasah disambut Pastor paroki dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo menunjukkan belasungkawa dengan menyalami keluarga dan kerabat almarhum. Sorenya dilaksanakan Misa Requiem yang dipimpin para uskup.
Misa Requiem untuk Uskup Emeritus Keuskupan Sintang, Mgr. Isak Doera juga dilangsungkan di Gereja Katedral Sintang dimulai pada pk. 18.00 WIB. Misa diawali dengan pembacaan Curiculum Vitae Mgr. Isak Doera oleh Bpk. Cosmas Syukur.
Misa Requiem ini di-pimpin oleh Rm. Leonardus Miau, Pr (Vikjen) didam-pingi oleh Rm. JB. Nan Kabelen,Pr, Rm. Salesius Jeratu, Pr, dan Rm. Hiasintus, Pr, serta disemarakkan dengan koor seminaris Seminari Menengah Yohanes Maria Vianney Sintang.
Para biarawan-biarawati, umat Paroki Kristus Raja Katedral Sintang dan Paroki Maria Ratu Semesta Alam Sei Durian turut hadir untuk memanjatkan doa bagi keselamatan jiwa Mgr. Isak Doera.
Jenazah Mgr. Isak Doera tiba di Maumere dan diterima Bupati Mitang didampingi Uskup Agung Ende,  Mgr Vincentius Sensi Potokota, Pr, ratusan imam, biarawan dan biarawati. Jenasah langsung dibawa ke Seminari Tinggi Ritapiret, Desa Nita Kecamatan Nita, untuk disemayamkan di Kapela Agung, Santo Petrus Ritapiret, Selasa (22/5).
Uskup yang pernah memimpin Keuskupan Sintang selama 19 tahun (1977-1996) itu dinilai telah banyak memajukan masyarakat Dayak di wilayah tersebut. “Saya kenal baik Monsinyur Isak. Beliau kokoh pendiriannya bagai tunggul tebelian, kata orang Dayak. Ia memajukan orang Dayak di Sintang,” kata Masri Sareb Putra, putra Dayak yang kini staf pengajar Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta.
Sebagai pastor tentara pada tahun 1967 di Kalbar, Isak Doera menjembatani tentara-rakyat agar pasca kerusuhan etnis China-Dayak tidak terjadi chaos. Di Sintang, menurut Masri, Isak Doera juga memajukan perekonomian masyarakat Dayak dengan mengembangkan Komisi Sosial Ekonomi, mendatangkan para mantri tani dan petani dari Jawa untuk menularkan cara bersawah.
Selain itu, Isak Doera mengirimkan para seminaris ke Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, untuk menimba ilmu. “Meski tidak semuanya menjadi pastor, mereka itu kini menjadi tokoh masyarakat Dayak,” jelas Masri.
Selama bertugas di Sintang, Isak Doera juga aktif melakukan kunjungan ke semua wilayah keuskupan untuk menemui masyarakat dan kaum Dayak. Dia memberi motivasi untuk terus maju. “Jasa besar Monsinyur Isak sulit terlupakan orang Dayak,” tegas Masri.
Suasana duka menyelimuti Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Para Uskup, imam dan biarawan-biarawati serta keluarga besar Mgr. Isak Doera dari Jopu, tak mampu menahan duka yang mendalam. Isak tangis pun pecah ketika jenasah diturunkan dari mobil ambulan.
Jenasah diantar Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus, Pr, Wakil Bupati Sintang, Ignasius Yuan, beserta rombongan dari Sintang dan Jakarta. Bupati Sikka mengatakan, Mgr. Isak Doera adalah sosok yang patut diteladani. Sejak awal tugas kegembalaannya di Maumere sampai ke Sintang, Kalimantan Barat, sampai pada saat ajal menjemput, almarhum selalu tulus dalam kesederhanaannya melayani umat.

Alumnus Pertama

Mgr. Isak Doera, Pr, adalah alumnus pertama Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ritapiret yang menjadi uskup. Mgr. Isak Doera lahir di Jopu, Nusa Tenggara Timur pada 26 September 1931. Pada 18 Januari 1959, Ia ditahbiskan menjadi imam dan pada 9 Desember 1976 diangkat menjadi Uskup Sintang oleh Paus Paulus VI. Enam bulan kemudian tepatnya pada 19 Mei 1977, Ia ditahbiskan Uskup oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono. Pada 1 Januari 1996, Beliau mengundurkan diri dan digantikan oleh Mgr. Agustinus Agus. Tepat pada 29 Oktober 1999, Vatikan resmi memilih Mgr. Agustinus Agus sebagai Uskup Sintang untuk menggantikannya.
Isak Doera dilahirkan di Jopu, 26 September 1931 dari pasangan Mikhael Bhoka dan Clara Maru. Pendidikan imamnya dimulai pada seminari menengah St. Yohanes Bergmans di Mataloko NTT yang diselesaikan tahun  1952. Dirinya kemudian melanjutkan ke Seminari Tinggi di Ritapiret Maumere yakni di St.Petrus dan tamat tahun 1958. Pada 18 Januari 1959, dirinya ditahbiskan sebagai Imam di Gereja Kathedral Ende oleh Mgr.Antonius Theyssen.
Pada tanggal 9 Januari 1976, ditunjuk sebagai Uskup oleh Paus Paulus VI yang kemudian ditahbiskan oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono tanggal 19 Mei 1977. Dengan berbekal motto pelayanan yang diambil dari 1 Yoh.4:16 yakni “Allah adalah Kasih”, dirinya selama 20 tahun berkarya di keuskupan Sintang.

Uskup Isak Doera selama berkarya pernah diangkat sebagai Kepala Yayaysan Vedapura (Bajawa) dan penilik sekolah Katolik serta menjadi anggota DPRD Tingkat II Ngada sebagai wakil Golongan Karya alim ulama Katolik. Selama kurang lebih 5 tahun (1961-1966),  ia menjadi penasehat rohani Partai Katolik Daerah Tingkat II Ngada dan moderator Pemuda Katolik Bajawa.
Dirinya juga pernah menjabat sebagai penasehat Susila Ikatan Petani Pancasila. Menjadi Pastor ABRI di Jakarta dengan pangkat Mayor tituler dan bertugas di Pusrohkat AD. Juni 1967, dirinya diangkat sebagai Kepala Rohkatdam XII/Tanjungpura, juga menjabat Ketua Komisi PSE KWI serta Komsos KWI.
Kilas balik tahun 1976, sebagai seorang Administrator Apostolik, tugas Mgr. Van den Boorn ialah menyerahkan terna, yaitu nama tiga orang sacerdos, kepada Takhta Apostolik untuk suatu saat dapat diangkat menjadi Us-kup Sintang. Mgr. Van den Boorn mengusulkan nama Romo Isak Doera dan Aloysius Ding, SMM dan bingung memasukan nama ketiga. Tetapi atas saran orang-orang yang dimintai pendapat, akhirnya terna terdiri dari Romo Isak Doera, Pr., Mgr. L. van den Boorn SMM sendiri, yang awalnya tidak mau dimasukkan, dan Pastor Piet Derckx, SMM.
Romo Isak Doera, yang baru pindah dari Pontianak pada tanggal 2 Mei 1975 dan bertugas sebagai Pastor paroki Katedral Sintang, ditetapkan oleh Paus Paulus VI sebagai Uskup Sintang pada tanggal 9 Desember 1976, yang baru diumumkan pada tanggal 2 Februari 1977.
Ia ditahbiskan oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono, serta co-konsekratornya ialah Mgr. Hie-ronimus Bumbun, OFM Cap dan Mgr. Vitalis Djebarus, SVD, di Ka-tedral Sintang, pada 19 Mei 1977. Tanggal ini dipilih karena tanggal pengangkatannya bersamaan dengan tanggal sang Ibunda kena stroke, anehnya tanggal tahbisan dipilih tanggal sang Ayahanda meningal dunia, enam tahun yang silam. Ia memilih motto episkopal “Allah Adalah Kasih (1 Yoh 4:16).Setelah mengabdi selama delapan belas tahun sebagai Uskup Sintang, Ia mengundurkan diri pada tanggal 19 Januari 1996. Sebagai Uskup emeritus, dimasa tuanya, ia beristirahat di Jakarta sambil melayani umat Allah dan kelompok yang membutuhkan pelayanannya.
Mgr. Isak, yang bernama lengkap Wilhelmus Isak Doera ini, dilahirkan di Jopu, Ende, Flores pada tangal 26 September 1931 dari orangtua Ibu Clara Maru dan Bapak Mikhael Bhoka, seorang katekis. Menempuh dan menyelesaikan pendidikan di Seminari Menengah Mataloko dan Seminari Tinggi Ritapiret, ia ditahbiskan sebagai imam diosesan di Ende melalui penumpangan tangan Mgr. Antonius Theyssen SVD, Uskup Agung Ende.
Setelah ditugaskan di berbagai karya pastoral, seperti pastor Paroki, penilik sekolah, anggota DPR, ia juga ditugaskan sebagai Pastor Militer yang akhirnya membawanya  berkarya di Keus-kupan Agung Pontianak. Setelah berkonsultasi dengan Mgr. Herkulanus OFM Cap, karena namanya masuk terna, akhirnya Romo Isak Doera dipindahkan dari keuskupan Pontianak ke keuskupan Sintang pada 5 Mei 1975 dan diangkat menjadi Pastor Paroki Katedral Sintang.

Kurangnya Tenaga

Melihat betapa Keuskupan Sintang sangat kekurangan tena-ga, baik tenaga klerikal, suster maupun katekis dan tenaga awam lainnya untuk karya pastoral, maka berbagai usaha ia lakukan untuk mengatasinya. Uskup Isak menghubungi Gubernur Kaliman-tan Barat, Bapak Kadarusno, seorang teman lama di Kodam XII Tanjung Pura, dalam usaha untuk mendatangkan sekitar seribu orang guru SD dari NTT pada tahun 1977.
Usaha ini menjadi usaha antara pemerintah Kalbar deng-an pemerintah NTT. Mendatangkan guru agama berarti seluruh beban finansial ditanggung keuskupan, tetapi mendatangkan guru biasa untuk Sekolah Dasar yang berstatus pegawai negeri tidak akan membebani keuskupan. Dari sekitar 2.000 orang guru, 1.560 orang beragama Katolik. Di kampung-kampung di pedalaman Kalimantan Barat, di tempat penempatan masing – masing, mereka menjadi tenaga andal Gereja, membantu Pastor dalam membina umat, mengurus liturgi, memimpin ibadat hari Mi-nggu dan ibadat lainnya.
Jasa mereka perlu dicatat dan terima kasih perlu dipersembahkan, karena mereka bekerja     seperti seorang katekis walau mereka bukan pegawai atau katekis keuskupan atau paroki. Kehadiran para guru Katolik ini semakin terasa manfaatnya kare-na pada saat bersamaan datang pula gelombang demi gelombang para transmigran dari Jawa yang hampir semuanya beragama Islam.
Mengingat tenaga imam yang sangat kurang, sejak masa awal menjadi Uskup, Mgr. Isak mendekati provinsial SVD untuk mau bekerja di Keuskupan Sintang. Permintaan ini disanggupi dengan mengirimkan beberapa imam mereka ke Sintang. Tahun 1978, datanglah beberapa imam Soverdi, Pastor Hendrik Rehi Manuk, Pastor Benediktus Raga dan pastor Stefanus Mite. Mereka bekerja dan melayani umat Allah di Merakai dan Senaning.
Sayangnya, sejak tahun 1996, tidak ada lagi penambahan tenaga, bahkan pada tahun 2001, hanya tersisa satu orang imam SVD yang berkarya di Sintang. Sejak tahun 2009, SVD meninggalkan keuskupan Sintang, walau secara legal, kontrak antara tarekat dan keuskupan belum diputuskan.
Sampai dengan tahun 1979, hanya ada satu tarekat suster yang bekerja di keuskupan Sintang, yaitu SMFA. Mengingat kebutuhan umat yang sangat besar, teristimewa umat yang di kampung-kampung, dan pentingnya kehadiran dan pelayanan para suster, maka Mgr. Isak meminta bantuan para imam Oblat Maria untuk membantunya mencarikan tarekat suster dan Beliau sendiri mendekati pimpinan tarekat Ursulin agar mau bekerja di keuskupan Sintang.
Maka pada 4 Januari 1980, datanglah lima orang suster Kongregasi Soeurs de la Charite de Sainte Jeanne Antide Thouret (SdC) ke Indonesia. Setelah menyelesaikan kursus bahasa Indonesia di Bandung selama enam bulan, mereka pun tiba di Sintang pada tanggal 10 Mei 1980. Para suster SdC bertugas di Temanang dan Lengkenat, paroki Sepauk, dan di kemudian hari juga di Sintang dan tempat lainnya.
Tepatnya, 23 Desember 1980, datanglah para suster Ursulin (OSU), yang memilih paroki Nobal sebagai tempat mereka berkarya. Dipelopori oleh Sr. Sri Sunarti, mereka melayani di bidang pastoral dan pembinaan umat. Tahun 1994, suster Ursulin meninggalkan Nobal dan pindah ke Nanga Pinoh.
Di samping menggerakkan umat di bidang pastoral, sosial, politik, dan ekonomi, Uskup Isak juga melihat jauh ke depan dengan mengundang beberapa tarekat klerikal maupun laikal (suster dan bruder) untuk berkarya di Keuskupan Sintang. Ia juga memikirkan tersedianya tenaga-tenaga imam lokal, yaitu imam-imam diosesan. Kebutuhan akan tenaga imam sangat mendesak dan sayangnya tidak selalu mudah mendapatkan tenaga imam dari tarekat. Karena itu, melalui persetujuan Dewan Imam Keuskupan Sintang pada tahun 1983, maka didirikanlah Seminari Tinggi Betang Batara di Bandung, tempat pendidikan dan pembinaan bagi para frater calon imam dioses Sintang.

St. Antoro, Frans Erbe, Christian AW

By esteantoro

Pertapaan Rubiah Trappistin Bunda Maria Pemersatu : RAHMAT MENGALIR DALAM HENING

Bunda Pemersatu-Gedono adalah pertapaan pertama rubiah Ordo Cisterciensis Observansi Ketat (OCSO) atau umumnya Trappist di Indonesia, didirikan pada tahun 1987. Pembangunan pertapaan yang dimulai tahun 1985 merupakan salah satu karya alm. Romo YB. Mangunwijaya, Pr. Gambar

Rama Frans Harjawiyata, OCSO ingat kejadian 50 tahun yang lalu tahun 1962. Ia diajak oleh Rama Bavo, Abbas Pertapaan Trappist Rawaseneng pada waktu itu, untuk menghadap Camat Kandangan, agar dapat memperoleh tanah untuk pertapaan rubiah Trappistin. Selama itu pula dilakukan kontak dengan pertapaan Trapistin di Jerman, agar dapat menjadi induk pendirian biara baru.  
Pada tahun 1971, Rama Frans ketika itu Rama Abbas menjadi Magister novis pada kesempatan retret menerima sharing seorang peserta retret yang berminat menjadi rubiah Trappistin. Keinginan itu mendapat peluang dengan tinggal di kamar tamu pertapaan Trappist Rawaseneng dan bergabung dalam kehidupan monastik di situ.
Pada tahun 1976, Rama Frans diangkat menjadi Abbas. Karena tidak ada tanda-tanda calon lain, Rama Frans mengambil keputusan berat untuk menghentikan perintisan untuk memulai kehidupan monastik rubiah Trappistin. Maka calon rubiah yang telah bergabung dalam kehidupan monastik di pertapaan Rawaseneng harus meninggalkan Rawaseneng.  
Namun, pada waktu selanjutnya, ketika ada calon baru lagi, gagasan mendirikan pertapaan rubiah Trappistin dibicarakan lagi dengan Abbas di Jerman. Dalam pembicaraan itu ditawarkan beberapa biara  Trappistin di Belanda, Belgia dan Jerman yang sekiranya dapat menjadi biara induk untuk merintis biara baru. Negara-negara di Eropa dirasakan terlalu dingin untuk orang-orang Indonesia. Biara-biara di Eropa tidak menjadi pilihan lagi.
Karena Abbas Frans pernah tinggal di Roma, Italia, muncullah alternatif baru. Pertapaan Trappistin di Vitorchiano diperhitungkan sebagai pilihan. Sementara itu datang peminat-peminat lain. Mulai tahun 1979, calon-calon inilah yang kemudian diutus untuk bergabung di pertapaan rubiah Trappistin Vitorchiano. Sampai tahun 1985 mencapai jumlah 11 orang.  
Tibalah saatnya dipersiapkan pertapaan baru di Indonesia, kemudian ditemukan tanah yang cukup luas untuk pertapaan tersebut. Pilihan jatuh di Gedono, di Dukuh Weru, Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Rubiah Perintis

Pada 6 Januari1962 dan kemudian 19 Maret para rubiah perintis datang ke Gedono. Pada hari Minggu, 12 April 1987, Minggu Palma, dirayakan Ekaristi yang dipimpin oleh Abbas Frans untuk memulai pondasi hidup regular Cisterciensis di Gedono.
Suasana teduh, hening, dan sunyi di pertapaan ini sungguh menjadi daya tarik utama. Apalagi buat orang kota yang selalu berpacu dengan waktu. Di tempat ini, waktu terasa berhenti. Kesunyian merupakan sarana yang mempermudah setiap orang untuk bertemu dan berdialog dengan Tuhan dan menjadikan Allah sungguh sebagai pusat hidup.
Para rubiah Cisterciensis mengarahkan hidupnya kepada kontemplasi. Mereka membaktikan diri seutuhnya kepada Allah semata-mata dalam kesunyian, keheningan dan doa kontinyu, dan dalam pertobatan terus menerus. Untuk itu, mereka tidak melakukan karya kerasulan aktif, betapapun mendesaknya kebutuhan Gereja. Namun demikian, mereka tetap harus bekerja untuk mendapatkan nafkahnya dan untuk mengungkapkan solidaritasnya dengan kaum pekerja kecil.
Bagi rubiah Cisterciensis, kerja merupakan kesempatan yang menunjang perkembangan pribadi untuk memberi diri masing-masing kepada sesama. Di biara Bunda Pemersatu Gedono, para rubiah Cisterciensis bekerja membuat hosti, yoghurt, selai dan sirup. Cetakan kartu bergambar dengan teks rohani dan doa, pembuatan rosario, dan ikon juga di-kerjakan oleh mereka. Peng-elolaan kebun pertapaan yang akhirnya akan menghasilkan buah dan sayur juga merupakan bagian dari kerja tangan mereka untuk menafkahi mereka sendiri.
Melalui Lectio Divina (cara monastik untuk berdoa dengan menggunakan kitab suci) komunitas rubiah Cisterciensis berkumpul untuk merayakan liturgi Ekaristi dan ibadat harian 7X sehari. Acara harian monastik merupakan keseimbangan antara doa pribadi, doa liturgi, lectio divina, dan kerja tangan. Kegiatan setiap hari mulai dengan ibadat malam sebelum matahari terbit (pk. 03.15). Kemudian diteruskan dengan doa hening bersama di gereja, lalu doa dan lectio pribadi. Dilanjutkan dengan ibadat pagi (pk. 05.45) dimana Tuhan dipuji pada permulaan hari baru.
Gambar
Jam Ibadat

Acara harian ditentukan oleh jam-jam ibadat harian sebagai sarana untuk menguduskan diri dan Perayaan Ekaristi (pk. 07.30) sebagai puncaknya dan dilanjutkan dengan ibadat jam ketiga. Kemudian ibadat jam ke-enam (pk. 11.15) tengah hari, dan ibadat jam ke-sembilan (pk. 13.30) sesudah tengah hari. Di antara jam-jam tersebut para rubiah Cisterciensis bekerja (pk. 08.15-11.00 dan pk. 13.45-15.45). Ibadat sore (pk. 16.45) dirayakan pada saat senja sebelum makan sore.
Acara harian ditutup bersamaan dengan ibadat penutup (pk. 18.55) yang diakhiri dengan nyanyian ‘Salam, Ya Ratu’ (Salve Regina Regina) menurut tradisi monastik untuk menyerahkan diri ke dalam perlindungan Bunda Maria.
Tersedia 8 buah kamar penginapan bagi mereka yang ingin mengikuti kehidupan bersama rubiah Cisterciensis. Untuk tinggal di tempat ini, diperlukan reservasi lebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kamar. Maksimum dalam 1 tahun hanya diijinkan tinggal tidak lebih dari 8 hari.
Umat memenuhi kapel pertapaan tersebut, bahkan ruang-ruang di sekitar dijadikan perluasan bagi umat untuk mengikuti  misa tersebut.  Puluhan imam ikut serta merayakan misa konselbrasi tersebut.
Sebagai biara yang terbuka, maksudnya bisa dikunjungi orang luar, Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono memang kerap didatangi orang dari berbagai tempat. Mere-ka datang untuk visitasi (kunjungan singkat) atau bermalam mengasingkan diri untuk berdoa (retret).
Bagi yang berminat untuk visitasi dan retret disana, alamat Pertapaan Bunda Gedono adalah Dukuh Weru, Ds. Jetak, Kec. Getasan, Kab. Semarang (sebelah barat daya Salatiga) Ph. 0298-327170 Fax. 0298-313836. Rumah Tamu: HP-0811-278299

   este antoro

By esteantoro